Anda sudah menjalankan Google Ads atau Meta Ads, tapi belum yakin apakah iklan benar-benar menghasilkan? Banyak UMKM di Bali mengalami hal yang sama — budget sudah keluar, laporan dari platform menunjukkan klik dan tayangan, tetapi hubungannya dengan pendapatan masih terasa kabur.
Di sinilah menghitung ROI (Return on Investment) jadi penting. ROI membantu menjawab satu pertanyaan sederhana: dari setiap rupiah yang dikeluarkan untuk iklan, berapa rupiah yang kembali ke bisnis? Artikel ini membahas cara menghitungnya dengan rumus yang mudah dipahami, lengkap dengan contoh kasus UMKM di Bali.
ROI — atau Return on Investment — adalah cara mengukur apakah pengeluaran iklan menghasilkan laba. Rumus dasarnya sederhana:
ROI = ((Pendapatan dari iklan − Total biaya iklan) ÷ Total biaya iklan) × 100%
Contoh: jika total biaya iklan Rp3.000.000 dan pendapatan dari pelanggan yang datang lewat iklan Rp9.000.000, maka ROI-nya adalah 200%. Artinya, setiap Rp1 menghasilkan Rp3 (laba Rp2).
Sering kali istilah ROAS (Return on Ad Spend) juga muncul. ROAS hanya membandingkan pendapatan dengan biaya iklan ke platform, sedangkan ROI menyertakan semua biaya: budget iklan, biaya pengelolaan, biaya materi, dan biaya pendukung lainnya. Untuk UMKM yang ingin gambaran lebih jujur tentang untung-rugi, gunakan ROI.
Menghitung ROI hanya mungkin jika data dasarnya dicatat. Berikut komponen yang perlu Anda kumpulkan setiap bulan:
Ini bagian yang sering terlewat. Anda perlu mencatat pelanggan mana yang datang dari iklan. Beberapa cara sederhana:
Jangan gunakan omzet. Hitung laba bersih: pendapatan dikurangi biaya produksi, bahan, atau operasional langsung yang dikeluarkan untuk memenuhi pesanan tersebut.
Bayangkan sebuah bisnis rental motor di Canggu yang menjalankan Google Ads dan Instagram Ads:
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Ad spend Google Ads (sebulan) | Rp2.000.000 |
| Ad spend Meta Ads (sebulan) | Rp1.500.000 |
| Biaya jasa pengelolaan | Rp1.500.000 |
| Total biaya iklan | Rp5.000.000 |
| Booking dari iklan (10 unit × rerata Rp500.000) | Rp5.000.000 |
| Laba per booking (setelah biaya perawatan & operasional) | Rp300.000 |
| Total laba dari iklan (10 × Rp300.000) | Rp3.000.000 |
ROI = ((Rp3.000.000 − Rp5.000.000) ÷ Rp5.000.000) × 100% = −40%
Hasil negatif. Artinya biaya iklan lebih besar dari laba yang dihasilkan. Ini sinyal bahwa kampanye perlu dioptimasi: mungkin kata kunci perlu diperketat, penawaran perlu diubah, atau landing page belum cukup jelas.
Bagaimana kalau hasilnya positif? Misalnya laba Rp8.000.000 dari biaya yang sama:
ROI = ((Rp8.000.000 − Rp5.000.000) ÷ Rp5.000.000) × 100% = 60%
Setiap Rp1 kembali jadi Rp1,60 — kampanye menghasilkan dan layak dipertimbangkan untuk ditingkatkan.
Bagi UMKM yang belum punya sistem CRM mahal, beberapa cara ini bisa dipakai:
Kuncinya: pilih satu hasil utama yang ingin diukur (chat WhatsApp, booking, atau pembelian) dan lacak itu dulu secara konsisten. Jangan mulai dengan melacak semua hal sekaligus.
Tidak ada angka tunggal untuk semua bisnis. Rata-rata industri berbeda-beda: produk dengan margin tipis butuh ROI lebih tinggi, sementara jasa dengan margin besar bisa toleran pada ROI yang lebih rendah.
Untuk UMKM yang baru memulai iklan digital, patokan realistis:
Yang lebih penting dari angka ROI adalah tren dari bulan ke bulan. ROI yang naik menandakan optimasi berjalan baik. ROI yang stagnan atau turun menandakan perlu penyesuaian strategi.
Ini panduan sederhana untuk UMKM yang ragu:
Jangan buru-buru menyimpulkan hanya dari satu-dua minggu. Kampanye baru perlu waktu untuk belajar dan mengumpulkan data. Evaluasi bulanan lebih masuk akal untuk sebagian besar UMKM.
Catat semua biaya, lacak sumber pelanggan, dan hitung laba dari transaksi yang berasal dari iklan. Kemudian terapkan rumus sederhana: (laba − biaya total) ÷ biaya total × 100%.
Proses ini bukan matematika rumit — lebih ke kebiasaan mencatat dan jujur melihat angka. Semakin konsisten Anda melakukannya, semakin jelas arah pengambilan keputusan: kampanye mana yang menang, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang harus dihentikan.
Jika Anda sudah membaca biaya Google Ads di Bali dan biaya Instagram Ads untuk UMKM, artikel ini adalah langkah berikutnya — menghubungkan pengeluaran dengan hasil nyata.
Jasa Digital Ads Bali membantu UMKM dan bisnis lokal menyusun kampanye dengan pelacakan yang jelas sejak awal — dari chat WhatsApp pertama sampai laporan bulanan yang mudah dibaca. Pelajari jasa Google Ads Bali atau jasa Meta Ads Bali. Hubungi kami untuk konsultasi awal — budget dan prioritas dibahas transparan sebelum eksekusi.
Baca juga
Ceritakan kebutuhan bisnis Anda. Kami bantu urutkan langkah promosi online yang paling relevan.